Tampilkan postingan dengan label Wisata Bisnis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Bisnis. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Maret 2017

Pantai Parangtritis yang romantis

Pantai Parangtritis adalah tempat wisata terbaik untuk menikmati sunset sambil having fun menaklukkan gundukan pasir dengan ATV (All-terrain Vechile) ataupun menyusuri pantai dengan bendi dalam senja yang romantis.

PANTAI PARANGTRITIS
Pantai Paling Terkenal di Yogyakarta
Jl. Parangtritis km 28, Yogyakarta 55188, Indonesia

Lihat peta
Pantai Parangtritis adalah tempat wisata terbaik untuk menikmati sunset sambil having fun menaklukkan gundukan pasir dengan ATV (All-terrain Vechile) ataupun menyusuri pantai dengan bendi dalam senja yang romantis.

Tulis ulasan 
Diperbarui tgl 2/27/2017


 Lihat foto lainnya (16 foto)

Tiket
Rp. 3.000
Pantai Parangtritis terletak 27 km selatan Kota Jogja dan mudah dicapai dengan transportasi umum yang beroperasi hingga pk 17.00 maupun kendaraan pribadi. Sore menjelang matahari terbenam adalah saat terbaik untuk mengunjungi pantai paling terkenal di Yogyakarta ini. Namun bila Anda tiba lebih cepat, tak ada salahnya untuk naik ke Tebing Gembirawati di belakang pantai ini. Dari sana kita bisa melihat seluruh area Pantai Parangtritis, laut selatan, hingga ke batas cakrawala.

Pssst, YogYES akan memberitahu sebuah rahasia. Belum banyak orang tahu bahwa di sebelah timur tebing ini tersembunyi sebuah reruntuhan candi. Berbeda dengan candi lainnya yang terletak di daerah pegunungan, Candi Gembirawati hanya beberapa ratus meter dari bibir Pantai Parangtritis. Untuk menuju candi ini, kita bisa melewati jalan menanjak dekat Hotel Queen of the South lalu masuk ke jalan setapak ke arah barat sekitar 100 meter. Sayup-sayup gemuruh ombak laut selatan yang ganas bisa terdengar dari candi ini.

Pantai Parangtritis sangat lekat dengan legenda Ratu Kidul. Banyak orang Jawa percaya bahwa Pantai Parangtritis adalah gerbang kerajaan gaib Ratu Kidul yang menguasai laut selatan. Hotel Queen of the South adalah sebuah resort yang diberi nama sesuai legenda ini. Sayangnya resort ini sekarang sudah jarang buka padahal dulu memiliki pemandangan yang sanggup membuat kita menahan nafas.

SUNSET YANG ROMANTIS DI PARANGTRITIS

Ketika matahari sudah condong ke barat dan cuaca cerah, tibalah saatnya untuk bersenang-senang. Meskipun pengunjung dilarang berenang, Pantai Parangtritis tidak kekurangan sarana untuk having fun. Di pinggir pantai ada persewaan ATV (All-terrain Vehicle), tarifnya sekitar Rp. 50.000 - 100.000 per setengah jam. Masukkan persneling-nya lalu lepas kopling sambil menarik gas. Brrrrooom, motor segala medan beroda 4 ini akan melesat membawa Anda melintasi gundukan pasir pantai.

Baiklah, ATV mungkin hanya cocok untuk mereka yang berjiwa petualang. Pilihan lain adalah bendi. Menyusuri permukaan pasir yang mulus disapu ombak dengan kereta kuda beroda 2 ini tak kalah menyenangkan. Bendi akan membawa kita ke ujung timur Pantai Parangtritis tempat gugusan karang begitu indah sehingga sering dijadikan spot pemotretan foto pre-wedding. Senja yang remang-remang dan bayangan matahari berwarna keemasan di permukaan air semakin membangkitkan suasana romantis.

Pantai Parangtritis juga menawarkan kegembiraan bagi mereka yang berwisata bersama keluarga. Bermain layang-layang bersama si kecil juga tak kalah menyenangkan. Angin laut yang kencang sangat membantu membuat layang-layang terbang tinggi, bahkan bila Anda belum pernah bermain layang-layang sekalipun.

Masih enggan untuk pulang walau matahari sudah terbenam? Tak lama lagi beberapa penjual jagung bakar akan menggelar tikar di pinggir pantai, kita bisa nongkrong di sana hingga larut malam. Masih juga belum mau pulang? Jangan khawatir, di Pantai Parangtritis tersedia puluhan losmen dan penginapan dengan harga yang terjangkau.


Copyright © 2011 YogYES.COM
Baca selengkapnya

Pantai Indah di Daerah Istimewa Jogyakarta

Seperti telah di ketahui oleh para turis lokal bahwa di Daerah Istimewa Jogyakarta pun terdapat pantai pantai indah yang alami.

  • PANTAI GLAGAH  Ketika Ombak Garang Berpadu dengan Laguna yang Tenang

Di pantai paling terkenal di Kulon Progo ini kita bisa memancing, bersepeda, menaiki cano di laguna, bermotorcross ria, hingga sekedar duduk santai menikmati tetrapod yang berjuang memecah ombak sambil menunggu sunset tiba.

Pemecah ombak dan laguna, dua kata itu langsung terlintas ketika mendengar nama Pantai Glagah. Keduanya seperti menunjukkan dua sisi berbeda dari pantai berpasir hitam ini. Ratusan tetrapod yang berjajar di sisi barat tanpa ampun memecah ombak Laut Selatan yang terkenal garang.

Ketika bulan baru dan ombak pantai menggulung-gulung, kita dapat melihat bagaimana ombak pecah dan buihnya menghambur ke daratan. Sementara itu, laguna tenang nan luas di dekatnya nampak begitu bersahabat bagi anak-anak kecil yang ingin bermain air. Ada kapal-kapal wisata tampak terparkir rapi di pinggir laguna, begitu pula dengan perahu bebek warna-warni yang menunggu untuk ditumpangi.

Bagi para pecinta olahraga silahkan bersepeda menyusuri pantai, naik ATV ataupun menaklukkan medan berpasir dengan motorcross. Laguna yang tenang juga asik digunakan untuk mengayuh dayung kano. Jika khawatir melepas anak-anak bermain air di pantai, ada kolam renang kecil bagi mereka sehingga bisa tetap berenang dengan aman. Selain itu, Pantai Glagah juga menjadi surga bagi para pemancing. Memancing dengan teknik casting di atas tetrapod tentu menjadi pengalaman tersendiri. Beberapa jenis ikan seperti Surung, Caru (baby GT), Talang, Pethek (Mlawis), Garon, Layur dan lain-lain bisa kita dapatkan di sini.

Saat matahari sedang terik, menikmati buah semangka atau melon segar yang dijual di jalan menuju pantai langsung dari petani lokal tentu sangat menggiurkan. Nimatilah buah-buahan itu sambil duduk di lincak-lincak yang diteduhi oleh pepohonan cemara udang di sepanjang bibir laguna. Jika lapar datang, beberapa warung yang menjual aneka olahan ikan di sekitar pantai dapat memadamkan rasa lapar seketika.

Setelah seharian bermain di pantai, jangan terburu-buru untuk pergi. Tunggu hingga matahari pulang ke peraduannya. Duduk dan menghadaplah ke barat di pinggir jalan dekat barisan pemecah ombak, nikmati cahaya emas yang memantul sempurna dari permukaan laut dan menyusup melewati celah tetrapod. Dengarkan debur ombak yang pecah, lihatlah langit yang semakin jingga dan rasakan laguna yang semakin tenang. Mereka akan menutup hari dengan begitu manis dan romantis.

Text YOGAKU PUSPITA RINI SAGALA Photography DANIEL ANTONIUS KRISTANTO
Copyright © 2015 YogYES.COM
  • PANTAI KRAKAL Menyongsong Barrel di Pantai Krakal
Deretan pantai-pantai indah laut selatan di Gunungkidul menyembunyikan beberapa spot surfing yang menantang, salah satunya adalah Pantai Krakal.
Pos retribusi Pantai Baron
Rp. 10.000

Pantai Krakal sudah lama kondang sebagai salah satu pantai di ujung selatan Jogja yang memiliki keindahan luar biasa. Garis pantainya landai dan ditaburi pasir putih dengan hempasan ombak yang jernih. Batu karang menghiasi sebagian besar bibir pantai, menjadi rumah bagi ikan-ikan karang berwarna-warni. Ikan damselfish kuning dengan aksen biru di punggungnya, ikan kepe-kepe (butterflyfish) bergaris-garis biru tua dan biru muda, serta sekelompok ikan kecil berwarna biru terang berenang di antara bebatuan. Kaki-kaki bintang laut hitam menjulur keluar dari balik batu tempat persembunyian mereka.

Bosan bermain di pinggir pantai? Cobalah berjalan mengarungi lepas pantainya. Sederet batu karang menyembul ke permukaan dan berbaris memanjang seolah membentuk sebuah jalan setapak di lautan. Jangan lupa untuk mengenakan alas kaki mengingat tajamnya batu-batu karang ini. Beberapa nelayan melintas, mencari tempat yang strategis untuk melempar joran pancing. Yang lainnya asyik menyelam di laut dangkal untuk mencari umbal, sejenis hewan laut kecil yang hidup menempel pada batu. Oleh penduduk setempat, umbal ini kemudian diolah menjadi rempeyek yang gurih.

Selain memiliki kecantikan yang eksotik, Krakal ternyata menyembunyikan ombak yang cocok untuk bermain selancar. Surfer harus berjalan menuju ke deretan batu karang di lepas pantai untuk kemudian menyongsong ombak bertipe reef break yang cukup menantang. Dasar lautnya didominasi oleh karang sehingga surfer harus ekstra hati-hati. Dry season antara bulan Maret dan September adalah waktu terbaik untuk menunggu barrel di Krakal.

Meski terletak sekitar 2 jam perjalanan mobil dari Jogja, akses jalan menuju Pantai Krakal terbilang cukup bagus dan rata. Deretan warung makan dan beberapa hotel juga dapat dengan cukup mudah ditemui di sekitar pantai, sehingga memudahkan Anda yang ingin menginap sambil menunggu ombak terbaik untuk berselancar. Namun, surfing bukanlah jenis olahraga yang cukup populer di kalangan penduduk setempat. Anda harus membawa papan surfing sendiri karena belum ada tempat persewaan surfboard di sini.

SURF SPOT DETAIL

Wave Quality Rating: 5
Type of Wave: Reef Break
Direction of Wave: Right and Left
Bottom: Reef
Difficulty: Intermediate, Advance
Crowd Level: Empty
Hazards: Reef, Sea Urchin, Jellyfish
General Description:
Garis Pantai Krakal didominasi oleh karang-karang tajam, sehingga tidak mudah untuk mencapai surf spots-nya. Ombaknya cukup bagus, terutama pada saat dry season (antara bulan Maret dan September) yang memungkinkan terciptanya barrel.

Text WAHYU SETIYOWATI Photography EROS YAN RENANDA, DANIEL ANTONIUS KRISTANTO
Copyright © 2013 YogYES.COM

  • PANTAI INDRAYANTI
    • Pantai Bersih dengan Restoran Cafe
Selain menawarkan pesona pantai berpasir putih dengan air laut yang jernih, Indrayanti juga menawarkan sensasi dinner romantis bertabur bintang di restoran yang terletak di tepi pantai.

PANTAI INDRAYANTI
Pantai Bersih dengan Restoran Cafe
Tepus, Gunungkidul, Yogyakarta, Indonesia



Pos retribusi Pantai Baron
Rp. 10.000

Matahari belum tinggi saat YogYES tiba di Pantai Indrayanti. Dua ekor siput laut bergerak pelan di sebuah ceruk karang, tak peduli dengan ombak yang menghempas. Segerombol remaja asyik bercengkerama sambil sesekali bergaya untuk diambil gambarnya. Di sebelah barat nampak 3 orang sedang berlarian mengejar ombak, sebagian lainnya bersantai di tengah gazebo sembari menikmati segarnya kelapa muda yang dihidangkan langsung bersama buahnya. Beberapa penginapan yang dikonsep back to nature berdiri dengan gagah di bawah bukit, sedangkan rumah panggung dan gubug yang menyerupai honai (rumah adat Papua) berdiri di dekat pantai. Jet ski kuning teronggok di sudut restoran.

Terletak di sebelah timur Pantai Sundak, pantai yang dibatasi bukit karang ini merupakan salah satu pantai yang menyajikan pemandangan berbeda dibandingkan pantai-pantai lain yang ada di Gunungkidul. Tidak hanya berhiaskan pasir putih, bukit karang, dan air biru jernih yang seolah memanggil-manggil wisatawan untuk menceburkan diri ke dalamnya, Pantai Indrayanti juga dilengkapi restoran dan cafe serta deretan penginapan yang akan memanjakan wisatawan. Beragam menu mulai dari hidangan laut hingga nasi goreng bisa di pesan di restoran yang menghadap ke pantai ini. Pada malam hari, gazebo-gazebo yang ada di bibir pantai akan terlihat cantik karena diterangi kerlip sinar lampu. Menikmati makan malam di cafe ini ditemani desau angin dan alunan debur ombak akan menjadi pengalaman romantis yang tak terlupa.

Penyebutan nama Pantai Indrayanti sebelumnya menuai banyak kontraversi. Indrayanti bukanlah nama pantai, melainkan nama pemilik cafe dan restoran. Berhubung nama Indrayanti yang terpampang di papan nama cafe dan restoran pantai, akhirnya masyarakat menyebut pantai ini dengan nama Pantai Indrayanti. Sedangkan pemerintah menamai pantai ini dengan nama Pantai Pulang Syawal. Namun nama Indrayanti jauh lebih populer dan lebih sering disebut daripada Pulang Syawal. Keterlibatan pihak swasta dalam pengelolaan Pantai Indrayanti rupanya turut membawa dampak positif. Berbeda dengan pantai-pantai lain yang agak kotor, sepanjang garis pantai Indrayanti terlihat bersih dan bebas dari sampah. Hal ini dikarenakan pengelola tak segan-segan menjatuhkan denda untuk tiap sampah yang dibuang oleh wisatawan secara sembarangan. Karena itu Indrayanti menjadi tempat yang nyaman untuk dikunjungi.

Usai menikmati sepiring nasi goreng dan es kelapa muda di gazebo, YogYES beranjak menuju bukit di sisi timur. Berhubung tidak ada jalan, menerobos semak dan perdu sembari memanjat karang pun menjadi pilihan. Sesampainya di atas bukit pemandangan laut yang bebatasan dengan Samudra Hindia terhampar. Beberapa burung terbang sambil membawa ilalang untuk membangun sarang. Suara debur ombak dan desau angin berpadu menciptakan orkestra yang indah dan menenangkan. YogYES pun melayangkan pandangan ke arah barat. Beberapa pantai yang dipisahkan oleh bukit-bukit terlihat berjajar, gazebo dan rumah panggung terlihat kecil, sedangkan orang-orang laksana liliput. Saat senja menjelang, tempat ini akan menjadi spot yang bagus untuk menyaksikan mentari yang kembali ke peraduannya. Sayang YogYES harus bergegas pulang. Meski tidak sempat menyaksikan senja yang indah, pesona Pantai Indrayanti telah terpatri di hati.




Baca selengkapnya

Indonesia bukan hanya Bali



Membaca berita dari kompas.com tentang jumlah turis bali yang melebihi jumlah penduduk bali itu sendiri membuat saya gerah juga. Di situ diberitakan bahwa jumlah wisatawan mancanegara dan isatawan domestik yang mengunjungi bali rata-rata pertahun adalah 5,7 juta orang, lebih dari jumlah penduduk bali yang menurut sensus penduduk tahun 2010 sebanyak 3,6 juta jiwa. Jumlah wisman dan wisdom itu mungkin akan meningkat lagi tahun ini mengingat tiap tahun selalu ada peningkatan atas jumlah wisman dan wisdom yang berkunjung ke Bali. Bali memang masih menjadi daya tarik wisata bagi para turis dibandingkan tempat lain di Indonesia bahkan dibandingkan dengan negara Indonesia itu sendiri. Menurut anda sendiri apa yang menarik dari Bali ? Bali memang tempat indah dengan pantai dan puranya, dengan adat istiadatnya, dengan tarian dan upacara tradisionalnya dan banyak lagi yang lainnya. Tapi sudah saatnya kita tidak hanya fokus 'menjual' Bali. 



Banyak daerah di Indonesia yang tak kalah menarik di banding Bali. Ada Taman nasional Wakatobi yang punya sumberdaya alam laut luar biasa. Disebut sebut sebagai Taman laut terlengkap di Asia. Ada kepulauan Raja Ampat yang disebut sebagai salah satu dari 10 perairan terbaik untuk diving site di dunia. Kawasan karang disini katanya yang terbaik di Indonesia. Kalau tak mau menyelam ke daerah jawa tengah saja, di mana banyak candi-candi bertebaran dan siap didatangi. Adat tradisinya pun tak kalah menarik dari Bali. 



Kalau bosan dengan pemandangan di darat silakan naik gunung. Gunung Bromo dan Gunung Semeru merupakan gunung terbaik untuk melihat sunset dari puncaknya. Atau anda bisa melihat keajaiban alam di Bangka Belitung ( ingat Laskar Pelangi ? ). Batu batu besar di pantainya tidak terjadi dalam 1-2 tahun.



 Saya melihat pemerintah memang sudah berusaha menjual daerah lain di Indonesia sebagai daerah tujuan wisata lain di luar Bali dengan cara mengikuti pameran-pameran pariwisata di luar negeri. Tapi itu tidak akan berhasil maksimal jika tidak dibantu oleh unsur-unsur lain di luar pemerintah salah satunya kita. Peranan agen pariwisata di sini sudah cukup membantu menurut saya. Sayangnya memang daerah-daerah wisata itu masih terkendala oleh berbagai hal, contohnya transportasi. "Jalannya banyak yang rusak" atau "naik ferinya cuma di jam jam tertentu... nggak praktis" .. itu salah satu alasan dari tamu-tamu saya yang pergi ke beberapa daerah itu. Promosi mengenai daerah wisata di dalam negeri pun kurang, contohnya sangat sedikit iklan tentang itu. Saya pernah menuliskannya di sini . Jadi mestinya kementrian pariwisata bekerja sama dengan instansi terkait untuk membenahi masalah ini. Bukankah pariwisata merupakan penghasil devisa juga buat negara kita. Lalu kita bisa bantu apa ya ? Bagaimana jika sesekali menulis tentang hal-hal menarik dari daerah masing-masing di sini. Sekecil apapun itu pasti berarti. Hentikan sejenak nulis tentang korupsi dan yang seksi seksi. Biar orang-orang di luar sana tahu bahwa Indonesia itu indah dengan keanekaragamannya.


Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/yayat/indonesia-bukan-cuma-bali_54fff691a33311d46d50f86d



Pantai pantai Indah yang ada di Indonesia



Alasan Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud memilih Pulau Dewata, Bali, sebagai tujuan berlibur terjawab sudah.



Ternyata ia sangat tertarik menikmati eksotisnya pantai Bali yang memiliki pasir putih dan laut lepas.

Ketertarikan Raja Arab Saudi diceritakan perwakilan Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia, saat melaksanakan konferensi pers di kawasan ITDC, Nusa Dua, Bali.


Sampai saat ini, masih belum dijelaskan ke mana saja tujuan Raja Salman selain akan menikmati keindahan pantai Bali. Yang pasti, Raja Salman dan rombongan akan menikmati keindahan pantai di sepanjang Pantai Nusa Dua yang terdapat di area hotel lokasi peristirahatannya selama di Bali.



Sependapat dengan Artikel yang dikutip dari Kompasiana dari penulis Daffa, bahwa Indonesia bukan hanya Bali, bukan maksud pribadi dengan pendapat yang Rasis, tapi pemerintah seharusnya lebih mengoptimalkan promosi pantai pantai yg eksotis di seluruh Indonesia, yang keadaanya masih Natural / alami , berikut adalah pantai pantai Indah di Indonesia


  1. Daerah Istimewa Jogyakarta
  • PANTAI NGLAMBORAkuarium Semesta yang Dijaga Sepasang Kura-Kura Raksasa
Dasar laut Pantai Nglambor bagai akuarium semesta yang menyimpan sejuta pesona. Atas jasa sepasang "kura-kura raksasa" yang mampu menjinakkan garangnya ombak dari Samudera Hindia, panorama bawah laut di pesisir selatan ini pun bisa diselami keindahannya.
Ganasnya ombak pantai-pantai di selatan Jogja sering kali membuat orang bergidik ngeri dan segan untuk mendekati. Ombak yang datang berkejaran dari arah lautan luas seolah berlomba menghalau agar kita tak mendekati airnya. Tak seperti pantai-pantai di sisi utara Jawa yang lebih ramah, tepian daratan yang langsung menyapa luasnya Samudera Hindia ini bukan tempat sesuai untuk menikmati asyiknya berenang di air asin atau serunya snorkeling menyaksikan keindahan panorama bawah laut bersama ikan-ikan kecil. Hingga kita terpaksa harus puas bermain air di pinggiran, di tempat buih-buih lautan mulai menghilang. Namun ketika YogYES berkunjung ke Pantai Nglambor, berenang dan snorkeling di pantai selatan yang tadinya terasa tak mungkin, nyatanya bisa dilakukan.

Trekking sekitar lima belas menit dari tempat parkir menjadi pilihan YogYES untuk mengakhiri tiga jam perjalanan terguncang-guncang di atas kendaraan. Medan yang terlalu berbahaya dengan jalanan menukik curam mengharuskan kami berjalan kaki atau menyewa jasa ojek berpengalaman daripada membawa kendaraan hingga ke dekat pantai sendirian.

Melewati celah pagar tanaman pandan laut (Pandanus tectorius), kami sampai di bibir pantai. Segerombolan anak muda dengan jaket pelampung berwarna jingga menyala lengkap dengan peralatan snorkel lainnya, terlihat antusias dan tak sabar ingin segera berenang dan menyelam di perairan dangkal. Kawasan Pantai Nglambor merupakan salah satu destinasi snorkeling di kawasan pesisir selatan Jogja yang memiliki panorama dasar laut menakjubkan dengan ragam terumbu karang dan biota laut. Ikan jenis Sergeant Major, Jambrong dan beberapa ikan kecil lainnya adalah penghuni tetap yang terlihat sering berenang bergerombol atau bermain petak umpet di celah-celah terumbu karang.

Pemandangan cantik yang tertutup ombak ini sangat dijaga oleh masyarakat sekitar Pantai Nglambor. Bahkan kawasan pantai ini merupakan daerah budidaya beberapa jenis ikan serta lokasi konservasi terumbu karang dan biota laut lainnya. Tradisi upacara sedekah laut Ngalangi pun juga dilakukan di pantai ini. "Ngalangi" dalam bahasa Jawa berarti menghalangi atau melarang. Masyarakat sekitar pantai Nglambor melarang siapapun untuk menangkap ikan di kawasan pantai kecuali sekali dalam setahun, di luar musim pemijahan ikan. Prosesi penangkapan ikan pun hanya bisa dilakukan dengan menggunakan gawar, semacam jaring dari akar pohon wawar yang dipancangkan dan dihalau bersama-sama ke laut oleh masyarakat setempat.

Seolah tak mau kalah, alam pun turut menjaga dan mempertahankan keelokan akuarium semesta ini dengan memerintahkan dua karang kura-kura raksasa untuk berpatroli menjaga pantai. Dengan gagah "Watu Kalong" dan "Watu Kuntul" menjinakkan ombak-ombak garang agar tak terlalu keras memukul bibir pantai. Keberadaan dua karang kura-kura raksasa inilah yang membuat terumbu karang Pantai Nglambor tidak rusak dihempas gelombang, sekaligus aman untuk snorkeling.

Mengenakan peralatan snorkel lengkap dengan sepatu dan jaket pelampung, kami pun segera menyapa para penghuni zona neritik dibantu oleh salah satu pemandu. Kebetulan saat kami datang adalah waktu terbaik untuk snorkeling, di saat air laut belum pasang namun juga tak terlalu surut. Terdapat dua persewaan alat snorkel di pantai ini, Bintang Nglambor Snorkeling (BNS) dan Pokdarwis Nglambor Lestari, hingga kami tak perlu bersusah payah membawa peralatan dari rumah.

Sisa-sisa ombak pantai selatan yang telah dijinakkan memberikan sensasi tersendiri ketika snorkeling di Pantai Nglambor. Tak jarang ketika kami sudah bersusah payah berenang agak ke tengah, ombak menyeret kami hingga ke tepian lagi. Dengan keahlian seorang pemula, kami menyelam dengan sangat hati-hati agar tak menginjak terumbu karang dan merusak ekosistem dasar laut di pantai ini. Kami tak ingin menambah ancaman kerusakan terumbu karang yang disebabkan oleh aktivitas manusia seperti penangkapan ikan yang berlebihan, pembangunan daerah pesisir dan adanya pemutihan terumbu karang (coral bleaching). Karena bagian dasar laut nan memukau dihadapan kami memerlukan waktu yang sangat lama untuk berdandan mempercantik diri. Jika ekosistem dasar laut ini rusak, maka usaha masyarakat sekitar dan dua kura-kura raksasa penjaga pantai akan terasa sia-sia. Pantai Nglambor dengan seluruh penghuninya telah memanjakan mata dengan semua riasan alamnya nan mempesona. Sebagai penikmatnya tak ada salahnya kita ikut menjaga kelestariannya, bersama masyarakat sekitar meringankan tugas dua karang kura-kura raksasa.

Usai bercanda dan berfoto bersama ikan-ikan, bebatuan karang di sisi selatan pantai nan teduh menjadi incaran untuk beristirahat sejenak, menikmati sepoi angin laut sambil mengeringkan pakaian. Tak jauh dari tempat kami duduk ada sebuah sumber air tawar yang memancar dari celah batuan kecil-kecil. Awalnya kami merasa heran melihat ada sumber air tawar di tepi pantai. Namun fenomena air tawar yang muncul di Pantai Nglambor ternyata dikarenakan adanya lorong karst menyerupai pipa U yang berfungsi sebagai saluran air tanah, seperti yang dikatakan salah seorang peneliti karst ahli klimatologi dari LIPI.

Terbuai hembusan angin pantai, kami tak sadar matahari semakin tinggi dan baju yang tadinya basah sudah mengering. Kami segera beranjak, berganti pakaian bersih dan mengemasi perbekalan. Kini sudah waktunya mengucapkan salam perpisahan pada sepasang kura-kura raksasa dan membiarkan keduanya melanjutkan tugas menjaga pantai seperti biasa.

Text DIAN NORRAS Photography JAYA TRI HARTONO
Copyright © 2015 YogYES.COM


  • PANTAI JOGAN Peraduan Eksotik Air Terjun dan Laut di Selatan Yogyakarta
  • Air terjun di bibir laut adalah sesuatu yang langka di Indonesia, bahkan dunia. Tersembunyi di balik perbukitan karst, Gunungkidul di selatan Yogyakarta ternyata menyimpan air terjun yang jatuh langsung ke bibir laut. Sebuah pesona yang sulit ditolak.

    Senja ikut menyambut ketika YogYES tiba di Pantai Jogan. Diapit tebing-tebing tinggi khas pegunungan kapur, Pantai Jogan bak peraduan, tempat air sungai turun gunung menemui ombak yang pulang melaut. Dari puluhan pantai yang berserak di sepanjang 71 kilometer pesisir Gunungkidul, Pantai Jogan menempati posisi istimewa karena keberadaan air terjun yang langsung jatuh dari atas tebing ke bibir laut, mengingatkan pada McWay Beach Waterfall di California. Selama ini, tak banyak pelancong yang tahu tentang Pantai Jogan. Lokasinya yang persis berada di sebelah barat Pantai Siung sering terlupa oleh para pemanjat yang dipacu semangat memeluk moleknya tebing Siung.

    Untuk mencapai Pantai Jogan, perlu waktu sekitar dua jam berkendara dari Jogja. Menyusuri jalanan aspal mulus, berkelok-kelok membelah perbukitan karst yang merupakan sisa lautan jutaan tahun silam. Bila kita sampai di Pos Retribusi Pantai Siung, artinya Pantai Jogan sudah dekat, karena sekitar 400 meter dari pos tersebut, akan terlihat papan kayu penunjuk arah menuju Jogan. Menggantikan aspal mulus, jalan setapak menjadi pemandu selanjutnya, mengantar Anda dengan didampingi dua sungai kecil di sisi kiri yang nantinya akan menyatu lalu menjelma menjadi air terjun. Sayang sekali, keelokannya hanya bisa disaksikan saat musim penghujan, sementara di musim kemarau debit air sangat kecil ditambah dengan aktivitas penyedotan airnya demi keperluan warga.

    Untuk bisa menikmati guyuran air dari atas tebing, kita harus turun ke bawah. Ada dua cara untuk turun, pertama dengan tehnik canyoning alias rappeling di air terjun. Tentu diperlukan peralatan dan kemampuan mumpuni untuk melakukannya. Kedua, menapaki turunan licin yang basah. Untunglah tersedia kayu-kayu pegangan sebagai penopang tubuh. Meski begitu, kehati-hatian adalah hal wajib karena jalur yang curam. Setelah batuan curam nan licin, tersisa satu lagi tantangan, kita masih harus melewati karang yang dihuni oleh ribuan bayi kepiting berwarna transparan berukuran sekitar 5 mm. Ini memang bukan koloni kepiting merah penghuni Christmas Island (yang dekat Jawa Barat tapi dimiliki Australia), namun melewatinya dengan kaki telanjang tentu bukan perkara sederhana. Penduduk sekitar biasa mengambil bayi kepiting ini untuk dimasak, menjadi teman makan nasi hangat di kala musim hujan. Bila beruntung, pengunjung juga bisa menyaksikan ratusan kupu-kupu bergerombol di bebatuan kering.

    Nah, sampailah Anda. Berlatar ungunya langit senja, menatap lepas ke Samudera Hindia, menyaksikan Poseidon melempar gulungan ombak yang seolah siap melahap, sementara di balik punggung, suara air terjun memekakkan telinga, pertanda derasnya air yang jatuh. Tak perlu merasa ngeri, nikmatilah keramahan percikan air saat kaki-kaki air menjamah kerasnya batuan karang. Menyambut sopan sebelum Anda menyibak tirai air, memasuki peraduan grojogan. Diguyur segarnya air tawar dari sungai-sungai rahasia perbukitan karst membuat kita merasa seolah kegersangan Gunungkidul hanyalah mitos. Karena sebenarnya daerah ini punya banyak sekali sumber air, yang sayangnya tersembunyi di perut bumi.

    Pantai Jogan adalah pemberi kesegaran, laksana oase di luasnya hamparan pantai pasir putih Gunungkidul. Juga seperti garnishes di piring yang terlalu sayang untuk dilewatkan. Pantai yang tepat bagi Anda yang ingin merasakan sensasi berbeda dari surga pesisir selatan Jogja.

    Text KEN SAVITRIE Photography DANIEL ANTONIUS KRISTANTO
    Copyright © 2013 YogYES.COM

    Tips
    Debit air terjun di Pantai Jogan akan sangat kecil pada musim kemarau, jadi sebaiknya datang saat puncak musim hujan (Desember - Januari).
    • PANTAI DRINI Pantai yang Tenang dengan Pulau Karang
    Sebuah pulau karang di bibir pantai membelah Pantai Drini menjadi dua bagian dengan karakter bertolak belakang. Sisi Timur yang tenang dan bagian Barat yang garang, membuat Pantai Drini menjadi sebuah pantai berkarakter ganda.
    Menjadi salah satu pantai istimewa di pesisir Gunungkidul karena sebuah pulau kecil di tengahnya, membagi pantai menjadi dua bagian. Konon di pulau tersebut banyak ditumbuhi santigi (Pemphis acidula), atau masyarakat di sini biasa menyebutnya drini. Itulah kenapa pantai dan pulau ini diberi nama drini. Bila laut sedang surut, kita bisa pergi ke pulau. Tak perlu menjadi climber untuk memanjat karang, karena tangga beton rela dipijak demi mengantar kita ke atas. Dari sini, pandangan kita bisa menyisir seluruh Pantai Drini, melihat gunungan alang-alang atap gazebo hingga deretan perahu nelayan. Semua tampak mungil, seperti miniatur bikinan kurcaci. Kini, tak ada lagi pohon drini, yang ada hanyalah pandan laut (Pandanus tectorius) memenuhi setiap jengkal tanah, berebut hidup dengan rerumputan. Saat YogYES ke sana, ada seorang bapak tua asyik nembang Jawa sambil mencari rumput untuk pakan ternak. Terdengar seperti seorang penyanyi yang diiringi musik orkestra alam. Ah, betapa damainya...

    Pulau ini juga sekaligus memisahkan sisi Timur dan Barat pantai menjadi dua karakter yang berbeda. Bagaikan manusia berkepribadian ganda, satu sisi tenang dan lembut, sementara sisi lainnya keras dan garang. Di Timur pantai, tebing-tebing berbaris gagah, berdiri angkuh seolah menantang penguasa laut. Dipadu dengan pulau karang, maka sebuah laguna yang elok pun terbentuk. Terjaga dari amukan ombak, menjadikannya tempat nyaman untuk mandi hangat air asin, bagaikan berada di bath tub raksasa, melemaskan otot yang lelah menyusuri pulau karang. Komposisi air berwarna biru kehijau-hijauan, dengan dinding dan pulau karang mengelilingi, serta beratap langit biru, ditambah pandangan bebas menuju lautan lepas, mengalahkan fasilitas spa dari salon manapun di muka bumi. Sambil menikmati pijatan air laut, akuarium alam yang mengoleksi beragam biota laut selalu menemani. Gerombolan Ikan jenis Goby Pasir, Jambrong, dan Sergeant Major tampak bermain petak umpet, berkejaran satu sama lain di sela karang, saling bersembunyi dari teman sepermainannya.

    Di bagian tengah pantai, sejalur dengan arah menuju pulau, ada sesuatu yang menarik. Kumpulan tipis pasir hitam berdiameter sangat halus tanpa malu-malu menerobos dominasi pasir putih. Bila mata tak awas, niscaya bagian ini akan terlewat. Menurut penelitian, dahulu ada sungai bawah tanah bermuara di Pantai Drini. Alirannya membawa pasir hitam yang sekarang masih bisa dilihat.

    Sisi Barat pantai punya pesona tak kalah eksotis; deretan perahu bercadik tertambat, beristirahat sejenak setelah semalaman bergelut dengan ombak laut Selatan. Satu dua nelayan terlihat menebar jala ke air, berharap ada ikan yang sudi mendatangi, menyerahkan diri untuk menyambung hidup keluarga nelayan. Ya, Pantai Drini juga merupakan kampung nelayan tradisional. Karakter ombak yang lebih kuat dan langsung menuju samudera tanpa karang menghalangi, menjadi tempat yang tepat bagi para nelayan untuk jalur berangkat dan pulang melaut.

    Lelah berkeliling pantai, marilah beristirahat di gazebo-gazebo kayu beratap ilalang. Menikmati kesegaran air kelapa muda sebagai penghilang dahaga sembari menunggu ikan hasil tangkapan nelayan matang dibakar. Berekreasi ke Pantai Drini seolah datang ke ahli terapi. Memulihkan lelah di kaki, juga di hati.

    Text KEN SAVITRIE Photography DANIEL ANTONIUS KRISTANTO
    Copyright © 2013 YogYES.COM
    • PANTAI NGONGAP
      • Menyusuri Jejak Sang Penjelajah Junghuhn
      • Menikmati tebing curam tempat bertemunya Pulau Jawa dan Samudra Hindia, sambil menyusuri jejak langkah sang penjelajah legendaris Franz W. Junghuhn
      • Bagi seorang petualang, sebuah pantai tidak harus memiliki pasir yang lembut atau air yang jernih untuk berenang, cukup sebuah suasana yang mendekatkan diri pada sang alam. Hal inilah yang mungkin dirasakan oleh Franz Wilhelm Junghuhn (seorang penjelajah kenamaan asal Jerman) yang terkagum-kagum ketika menapaki pantai Ngongap (atau Ngungap) di Gunungkidul, Yogyakarta pada tahun 1856 silam. Setelah berjalan berminggu-minggu melewati belantara tanah Jawa yang masih liar, akhirnya Junghunh mencapai pesisir selatan Jawa yang terkenal liar, penuh deburan ombak langsung dari Samudra Hindia. Di pantai karang yang terjal inilah Junghuhn memetakan pemikirannya tentang keindahan alam, kekayaan tradisi, serta kemakmuran tanah Jawa yang penuh nuansa spiritualisme. Junghuhn pun mengabadikannya dalam sebuah lukisan berjudul "Sudkuste bei Rongkop", sebuah mahakarya yang justru terlupakan oleh masyarakat Indonesia itu sendiri.

        Satu setengah abad kemudian, kami pun berusaha mencari tahu keberadaan pantai yang membuat sang petualang jatuh hati. Cukup sulit menemukan pantai berkarang ini, apalagi di tengah landscape Gunungkidul yang berliku dan penuh karang terjal. Nuansa petualangan terasa kuat ketika jalan aspal yang kami lalui tiba-tiba berubah menjadi jalan berbatu, membuat sang supir merasa kewalahan menapaki gundukan-gundukan tanah yang mengadu ban mobil kami. Namun, semua kesulitan itu terbayar ketika kami sampai di Pendopo tua tempat Junghuhn singgah 159 tahun yang lalu, tepat di pinggir karang terjal dengan desiran ombak yang terus memanggil tanpa henti.

        Rasa takjub langsung terasa saat kami menyaksikan jejeran tebing karang yang seakan tidak berubah sejak tahun 1856, persis seperti dalam lukisan "Sudkuste bei Rongkop". Alur-alur karang terjal nan kuat bergelombang indah di kanan dan kiri, dengan tegap menantang ombak raksasa dari Samudra Hindia. Di Pantai Ngongap, daratan seakan berhenti mendadak (sekitar 100 meter di atas permukaan laut) hanya untuk digantikan langsung oleh samudra biru nan dalam dengan ombaknya yang kejam, menggambarkan kekuatan sang alam itu sendiri. Luar biasa!

        Persis seperti yang diceritakan oleh Junghuhn dalam buku-bukunya, daerah karang dan lautan di sekitar Pantai Ngongap masih menjadi surga bagi para burung berliur emas. Goa-goa di bawah karang menjadi rumah yang sempurna bagi burung walet (Aedromus sp), terlindung dari gangguan predator yang berusaha mencuri sarang mereka. Pada waktu-waktu tertentu, masyarakat sekitar memanfaatkan lokasi ini untuk memanen sarang burung walet yang harganya bisa mencapai jutaan rupiah per kilogram, namun dengan resiko yang juga tinggi. Peralatan yang digunakan untuk mencapai gua harta karun ini kurang lebih sama dengan masa Junghuhn, hanya menggunakan tangga tali tambang yang masih tergantung dengan erat di sebuah pohon besar di dekat pendopo. Hidup-mati para pendulang liur emas ini bergantung hanya pada seutas tali sederhana ini, beserta kemurahan hati sang alam yang mereka tantang.

        Selain burung walet, tebing-tebing karang ini juga menjadi lokasi bersarang beberapa satwa lain, seperti si burung cantik Buntut-sate Putih (Phaeton lepturus) yang mengundang rasa penasaran para fotografer satwa liar di seantero negeri. Lautan di bawahnya pun kaya akan ikan-ikan besar, seperti Cakalang (Katsuwanus pelamis) yang menjadi target para pemancing dari berbagai daerah di tanah Jawa. Terkadang, berbagai macam hewan laut lain seperti penyu, lumba-lumba atau bahkan hiu bisa terlihat berenang ke permukaan air, cukup jelas untuk dilihat dari atas tebing yang tinggi. Menakjubkan!

        Dengan landscape yang luar biasa indah dan kekayaan alam yang sangat tinggi, kami pun tidak heran bagaimana pantai tanpa pasir ini bisa memikat hati sang petualang. Barisan karang tajam dan deburan ombak yang kejam ternyata menyimpan harta karun yang berlimpah, terjaga dari tangan-tangan rakus agar bisa dinikmati oleh anak-cucu kita di masa depan. Pada akhirnya, kami pun memahami perasaan sang Franz Wilhelm Junghuhn yang memutuskan untuk pindah selama-lamanya ke tanah Indonesia, tempat yang dulunya dianggap liar dan terasing, namun penuh dengan keindahan bagi sang petualang sejati.

        Text PANJI G. AKBAR Photography JAYA TRI HARTONO
        Copyright © 2015 YogYES.COM

        Cara menuju ke sana:
        Dari Jogja - Jl Wonosari - ikuti jalan menuju ke Pantai Sadeng - sampai di Pasar Rongkop Girisubo, ambil jalan lurus - jalan offroad - Ngongap Girisubo
    • PANTAI GLAGAH  Ketika Ombak Garang Berpadu dengan Laguna yang Tenang....Berlanjut

    Baca selengkapnya

    Senin, 06 Maret 2017

    Bagaimana jika wanita jadi Raja?


    Sabda Raja Sri Sultan Hamengkubuana  X pada Kamis 30 April lalu menuai respons di tataran masyarakat. Beragam pendapat muncul dari rakyat yang tetap berharap agar Yogyakarta tetap istimewa.
    Salah satu respons datang dari Retno Wulan. Ibu rumah tangga itu tidak sependapat jika penerus tahta Sultan Yogya diampu perempuan.

    "Kalau saya tidak setuju karena yang harus menjadi raja itu laki-laki. Kalau sang raja tidak memiliki anak laki-laki bisa dialihkan ke adiknya," ujarnya.

    Pendapat serupa muncul dari Mujiono. Laki laki yang bekerja sebagai tukang becak itu tak mempermasalahkan jika Sultan akhirnya memilih putri sulungnya sebagai putri mahkota.

    "Kalau bisa, ya, laki-laki. Seorang pemimpin bagi seorang muslim haruslah laki laki. Tapi kalau keputusannya perempuan, ya, setuju setuju saja. Asal bisa memasyarakat. Jadi rakyatnya bisa ayem tentram dan makmur."

    Pendapat Mujiono diamini temannya Sulistyono yang juga seorang tukang becak. "Ya, bagi saya sebetulnya bagus dipimpin laki-laki. Bilamana itu jadi keputusan Keraton, ya, yang penting merakyat saja."

    Selasa, 5 Mei 2015 kemarin, Sultan Hamengku Buwono X menunjuk putri sulungnya Gusti Kanjeng Ratu Pembayun sebagai Putri Mahkota bergelar GKR Mangkubumi. Keputusan tersebut diambil setelah sebelumnya Sultan mengucapkan Sabda Raja yang memuat lima hal.

    Lima Sabda Raja Yogyakarta antara lain mengubah penyebutan Buwono menjadi Bawono, menghapus gelar Khalifatullah yang melekat pada gelar Sultan, mengganti penyebtan kaping sedasa menjadi kaping sepuluh, mengubah perjanjian pendiri Mataram oleh ki Ageng Giring dengan Ki Ageng Pemanahan dan terakhir menyempurnakan keris Kanjeng Kyai Ageng Kopek dengan Kanjeng Kyai Ageng Joko Piturun. 

    Sejumlah kerabat Keraton menilai Sabda Raja menabrak paugeran Kraton. GBPH Yudho Ningrat misalnya yang menganggap Sabda Raja cacat dan batal demi hukum.

    Namun, tak demikian dengan pendapat masyarakat Yogyakarta. Salah seorang warga, Panud mengaku manut atas apa yang sudah menjadi keputusan rajanya.   

    "Saya setuju saja. Yang penting masih kerajaan. Yang penting Yogya tetep istimewa. Terus pemimpinnya raja atau ratu. Karena untuk menciptakan pemimpin tidak harus dengan pemilihan rakyat. Jadi masyarakatnya lebih tentrem, itu prinsip saya," ujarnya.

    Pun demikian dengan Yuliantini. "Setuju. Wanita kalo memimpin lebih matang. Emansipasi wanita juga banyak enggak harus di dapur."

    Nuryanto, antv/tvOne.
    Baca selengkapnya

    Minggu, 05 Maret 2017

    Panti Asuhan didirikan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah


    Panti Asuhan didirikan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah (dahulu Hoofbestuur) pada tahun 1921 yang mengasuh dan menyantuni anak-anak yatim piatu, yatim, piatu dan dhuafa baik putra maupun putri. Sistem pengasuhan yang dilakukan pada awal berdiri adalah setiap pengurus / anggota Muhammadiyah diwajibkan mengasuh dan mendidik beberapa anak asuh di dalam rumah mereka masing-masing. Kemudian pada tahun 1928 dibagi/dipisah menjadi 2 bagian, yaitu:

    Panti Asuhan Yatim Putra Muhammadiyah yang berlokasi di Jl Lowanu Mg III/1361 Kecamatan Mergangsan Kota Yogyakarta
    Panti Asuhan Yatim Putri Aisyiyah yang berlokasi di Jl Munir 109 Serangan Kecamatan Ngampilan Kota Yogyakarta.
    Hal tersebut di atas diperkuat dengan terbitnya Surat Pengukuhan No. 17/SK-PP/IV-A/1-c/1995 tanggal 11 Syawal 1415 Hijriyah / 13 Maret 1995 Masehi. Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam suratnya yang di tandatangani oleh Ketua ( Prof. Dr.H.M. Amien Rais, M.A ) dan Sekretaris ( H.M. Muchlas Abror) itu menyatakan : “ (a) Panti Asuhan Yatim Putera Muhammadiyah Yogyakarta bertempat di: Lowanu No.III/1361 Yogyakarta; (b) Panti Asuhan Yatim Puteri Aisyiyah Yogyakarta yang beralamat di: Jl. Munir 109 Serangan Yogyakarta. Adalah benar-benar Panti Asuhan yang didirikan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah (dahulu Hoofbestuur pada tahun 1921) yang mengasuh dan menyantuni anak-anak yatim dan yatim piatu putera dan puteri. Kemudian pada tahun 1928 dipisah menjadi dua bagian: khusus putera dan khusus puteri. Demikian surat ini kami buat sebagai pengganti Akta Pendirian, yang arsipnya sudah tidak dapat diketemukan lagi untuk dipergunakan sebagaimana mestinya dan menjadi keterangan yang sah bagi semua pihak yang berkepentingan”.

    Dari surat tersebut kita memperoleh kejelasan bahwa PAY pertama kali didirikan di lingkungan Muhammadiyah pada Tahun 1921 yang anak-anak asuhnya terdiri dari putra dan putri. Ini artinya bahwa PAY lahir pada masa Muhammadiyah di bawah kepemimpinan K.H. Ahmad Dahlan ( 1921-1923). Jadi, sejak awal Muhammadiyah dalam aktivitasnya menunjukkan kepedulian kepada anak-anak yatim dan fakir miskin untuk merealisasikan firman Allah Q.S. Al-Ma’un. PAY merupakan salah satu bukti amal nyatanya. Tujuh tahun kemudian, pada tahun 1928, pada masa kepemimpinan K.H. Ibrahim ( 1923 – 1932), PAY di lingkungan Muhammadiyah dipisah atau dibagi menjadi dua: ada PAY yang khusus mengasuh dan menyantuni anak-anak yatim putera serta ada PAY yang khusus mengasuh dan menyantuni anak-anak yatim puteri. Dalam perkembangan selanjutnya, PAY khusus puteri diserahkan kepada Aisyiyah. Sedangkan PAY khusus putera ditangani oleh Muhammadiyah. Sehingga nama masing-masing menjadi PAY Putri Aisyiyah dan PAY Putra Muhammadiyah.

    Pada tanggal 17 September 1965, Pimpinan Muhammadiyah Majelis PKU DIY telah menyerahkan secara mutlak keseluruhan urusan Panti Asuhan Yatim Putri Aisyiyah kepada Pimpinan Cabang Muhammadiyah Ngampilan Kota Yogyakarta, dan selanjutnya Pimpinan Cabang Muhammadiyah Ngampilan membentuk suatu kepengurusan Panti Asuhan Yatim Putri Aisyiyah untuk melaksanakan kepemimpinan, kekuasaan, pertanggungjawaban serta menyelenggarakan pemeliharaan hak milik dan pengasuhan anak-anak yang merupakan kekuasaan otonom penuh.

    Mulai tahun 2006 sampai dengan saat ini, kegiatan amal usaha Panti Asuhan Yatim Putri Aisyiyah Yogyakarta diselenggarakan oleh Majelis Kesejahteraan Sosial Pimpinan Wilayah Aiyiyah Daerah Istimewa Yogyakarta.

     Visi, Misi dan Tujuan

    VISI

    Terwujudnya Panti Asuhan Putri yang Islami, yang mempunyai Keunggulan Pengasuhan yang bermartabat dan menjadi Kebanggaan Umat.

    MISI

    Berdakwah melalui Pelayanan Sosial yang berkualitas dengan mengutamakan Peningkatan kapasitas Sumberdaya Insani serta peduli pada Dhu’afa dan Yatim Piatu.

    TUJUAN

    Mengimplementasikan nilai-nilai  Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW
    Menjadikan Organisasi Pelayanan Sosial yang Tertib, Profesional, Mandiri dan Berkemajuan.
    Mempersiapkan kader-kader  Penerus Perjuangan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah.
    Mengantarkan generasi bangsa yang cerdas, berakhlaqul karimah menuju kemandirian hidup  yang  bermartabat dan berkemajuan.

    Panduan Donasi

    Bagi Bapak/Ibu/Sdr/Sdri yang ingin menyumbangkan dana, Bapak/Ibu/Sdr/SdriBOLEH menyumbangkan dana seberapapun kepada kami, kami akan sangat menghargai sumbangan yang diberikan.
    Berikut ini kami sampaikan Panduan Berdonasi untuk mendonasikan Zakat, Infak/Sedekah dan Wakaf dari Bapak/Ibu/Sdr/Sdri sekalian kepada Panti Asuhan Yatim Putri ‘Aisyiyah Serangan Yogyakarta.
    1. Via Rekening Bank
      Bapak/Ibu/Sdr/Sdri yang ingin berdonasi dalam berzakat, ber infaq serta donasi lainnya dapat melalui layanan via rekening BNI Cab. Yogyakarta 003.0436155
    2. Langsung ke Kantor PAY Putri ‘Aisyiyah Serangan YogyakartaBapak/Ibu/Sdr/Sdri juga dapat melakukan donasi dengan datang langsung ke kantor pelayanan kami, dengan alamat : Jalan Munir No.109 Serangan Yogyakarta 55262 Telp. 274-374918
    3. Layanan Jemput DonasiJika Bapak/Ibu/Sdr/Sdri mengalami kendala untuk datang langsung ketempat kami. Nikmati kenyamanan berdonasi melalui Layanan Jemput Donasi. Hubungi via Telp ke kantor kami atau sms 081548803919,  dengan  cepat staf kami akan menjemput donasi ketempat Bapak/Ibu/Sdr/Sdri.
    Konfirmasi Donasi
    Setelah Bapak/Ibu/Sdr/Sdri berdonasi:
    • Jika melalui Perbankan, pastikan untuk mengkonfirmasikan Donasinya dengan menghubungi Layanan Donasi
    • Jika melalui Pembayaran Tunai, pastikan untuk mendapatkan kuitansi tanda terima atas Donasi yang sudah diberikan.
    • Untuk mengkonfirmasi Donasi yang sudah ditransfer dapat dilakukan dengan cara:
      Mengisi Form Konfirmasi Donasi disini
      SMS Konfirmasi ke nomor 081548803919
      E-mail : payaisyiyah1928@gmail.com
      Website : www.pantiaisyiyahjogja.org
      Telpon : +62 274 374918
      Terima kasih atas donasi yang telah diberikan, semoga Allah SWT memberikan balasan yang lebih baik kepada Bapak/Ibu/Sdr/Sdri.

    PANTI ASUHAN YATIM PUTRI ‘AISYIYAH SERANGAN YOGYAKARTA
    Jalan Munir No. 109 Serangan, Ngampilan, Daerah Istimewa Yogyakarta 55262
    Telp. 0274-374918
    email: payaisyiyah1928@gmail.com

    Baca selengkapnya

    Jumat, 03 Maret 2017

    7 BEAUTIFUL BOUTIQUE HOTELS IN YOGYAKARTA FROM $15


    I get a lot of questions from people asking where to stay in Yogyakarta. Some people ask about luxury hotels and some people want budget hotels. I always try to recommend hotels with a great design, in a convenient location, and comfortable mattresses. To help you find a great place to stay for your holiday here is a list of the best boutique hotels in Yogyakarta. I know you’re going to love some of the hotels on this list.
    The first hotel on this list is the most popular boutique hotel in Yogyakarta at the moment. We’ve ranked the other six boutique hotels on the list by price. Let’s get started!

    The DYI Best Boutique Hotel in Yogya

    Agoda Rating
    8.2 - Excellent
    Based on 320+ Reviews





    Greenhost Boutique Hotel from $46

    Greenhost Boutique Hotel has a unique design and interesting culture that has made it the most popular boutique hotel in Yogya. The hotel is built around a large central square. On the ground floor there’s a swimming pool and an exhibition space where Greenhost holds exhibitions and events for artists, designers and others in the arts scene from Yogyakarta and Indonesia. The rooms have a minimalist industrial design with power showers and comfortable mattresses. You can visit the website to learn more about the hotel or book through the button below.
    check-button-deep-yellow

    Recommended Boutique Hotels in Yogya

    Booking Rating
    7.9 - Good
    Based on 300+ Reviews




    Kampoeng Djawa Hotel from $15

    If you are looking for a budget boutique hotel in Yogyakarta then you should try Kampoeng Djawa Hotel. The hotel has 9 rooms, which have porches out the front with a small garden. The rooms are furnished with traditional Javanese furniture. Keep in mind that this is a budget option. The furniture is old and the hotel could do with a renovation. However, when it comes to value for money and convenient location Kampoeng Djawa is a winner.
    agoda-button-google-green
    Agoda Rating
    8.0 - Very Good
    Based on 50+ Reviews




    Pawon Cokelat from $23

    Pawon Cokelat is located in one of the warren of alleyways around one of the main backpacking streets Jalan Malioboro. The guesthouse is relatively small with 10 rooms complete with air conditioning, LED TV and good Wi-Fi. It’s a convenient and cheap boutique hotel in Yogyakarta for people on a budget.
    agoda-button-google-green
    Agoda Rating8.2 - ExcellentBased on 130 + Reviews









    Adhisthana Hotel from $25

    Adhisthana is a large boutique hotel with many room types (ranging from cheap dorms at $10 a night through to suites). A lot of attention and care has gone into the interior design of Adhisthana and it shows. The hotel has a blue and white color scheme, decorated with light wooden furniture and copper fittings. You can read a full review of the hotel here. It’s one of the best budget boutique hotels in Yogyakarta.
    agoda-button-google-green
    Agoda Rating
    8.6 - Excellent
    Based on 200+ Reviews




    Lokal Indonesia from $46

    Lokal Indonesia has a funky almost 70’s style interior decor with modern amenities. The furniture is colourful and functional, the walls are painted in neutral colours with splashes of colour painted over the top and the geometric tiles bring tie together the design. It’s the kind of hotel that will make you look great on Instagram. The only downside of the hotel is the location, which is a bit out of the way if you want to explore Yogya.
    agoda-button-google-green
    Agoda Rating
    8.6 - Excellent
    Based on 360+ Reviews




    Dusun Jogja Village Inn from $62

    Dusun Jogja Village Inn has one of the best ratings on Booking and rightly so. Often called a little oasis of tranquility, the hotel has a central garden courtyard with a large pool. The rooms at the hotel are spacious and comfortable, with many of the second story bedrooms have balconies where you can sit and chat in the evening. The decor of the hotel incorporates traditional Javanese design.
    agoda-button-google-green
    Agoda Rating
    8.7 - Excellent
    Based on 1,900+ Reviews





    Phoenix Hotel from $72

    The Phoenix Hotel is the most expensive boutique style hotel in Yogyakarta. It is set in a colonial era building and the décor mixes traditional European and Javanese design. The obvious highlight of the hotel are the spacious rooms with comfortable beds, and on the second floor, balconies overlooking the olympic sized swimming pool. The Phoenix Hotel has a a great restaurant that serves international cuisine. It is one of the nicest boutique hotels in Yogyakarta.
    agoda-button-google-green
    Baca selengkapnya