Jumat, 17 Februari 2017

Apa itu Buzzer

Buzzer facebook

Anda pastinya memiliki beberapa orang teman yang cukup terkenal di jejaring sosial. Tidak peduli apakah di Facebook, Twitter, Instagram, maupun LinkedIn, selalu ada saja 2-3 orang yang seolah-olah menyandang status ‘selebriti’ dalam jejaring sosial tersebut. Dalam jejaring sosialnya, mereka memiliki ribuan teman dan pengikut. Bahkan, banyak orang yang menganggap orang-orang ini sebagai idola. Postingan apapun yang mereka unggah setiap harinya akan mendapatkan ratusan LikeComment, dan dibagikan kembali oleh teman-teman maupun pengikutnya.
Sebenarnya, mereka hanyalah orang-orang biasa seperti Anda. Yang berbeda hanyalah dari segi personaliti: mereka percaya diri dan tahu kelebihannya yang tidak dimiliki oleh orang lain. Karena kelebihannya ini, setiap kali dia membuat status di jejaring sosial, ada saja orang yang akan menyukai, mengomentari, dan juga membagikan postingannya–meskipun yang mereka unggah hanyalah gambar dan video biasa.
Orang-orang seperti ini merupakan individu yang biasa disebut buzzer. Ada juga yang menyebutnya sebagai micro influencer, atau KOL (Key Opinion Leader). Mereka mampu mempengaruhi pikiran teman-teman dan pengikut mereka, lalu secara tidak langsung mempengaruhi keputusan mereka mengenai suatu hal. Pada umumnya, buzzer ini memiliki 2-3 ribu orang pengikut dan bahkan bisa mencapai jutaan pengikut.
Popularitas para buzzer ini mendorong brand-brand besar untuk bekerja sama dengan mereka. Selain dapat menghemat biaya untuk membayar iklan di Facebook atau Instagram, mereka juga dapat membayar buzzer ini untuk menulis status tentang produk/jasa tertentu dan mempengaruhi teman-teman dan pengikutnya untuk membeli produk atau menggunakan jasa tersebut. Taktik ini terlihat sederhana, tidak terlalu terlihat membujuk dan blak-blakan. Cara mereka menulis status, mengunggah poster atau video juga berbeda dari iklan-iklan lain yang biasa kita lihat. Pendekatannya sendiri cenderung lebih pribadi dan tidak komersil. Tentu saja, brand-brand ini tidak menentukan isi postingan para influencer: mereka hanya memberikan panduan secara garis besarnya saja. Dengan begitu, postingan yang dibagikan para influencer akan terasa lebih alami.
Selain itu, dari aspek algoritma jejaring sosial, status yang tidak bersifat komersil tidak akan diblokir dan akan selalu ditampilkan di newsfeed. Khususnya bagi Facebook, yang mempunyai peraturan yang sangat ketat terhadap hal ini karena mereka ingin para pemilik usaha untuk memiliki sebuah akun Facebook sendiri atau Facebook Page daripada harus jualan di akun pribadi. Facebook juga tidak akan sungkan-sungkan mem-blacklist orang-orang yang mencoba berniaga di akun pribadi.
Jika Anda memiliki sebuah bisnis dan ingin mengiklankannya di jejaring sosial, maka taktik yang berikut ini merupakan cara yang tepat untuk Anda. Coba cari teman maupun rekan Anda yang mempunyai banyak kenalan. Pilih orang dengan jumlah kontak dan pengikut yang lebih dari 4.000 orang. Jika Anda memilih untuk bekerja sama dengan 5 orang saja, maka Anda akan mendapatkan 20 ribu audiens yang akan melihat bisnis Anda. Pastikan saja status, foto, maupun video yang diposting terlihat menarik dan tidak membosankan.
Di Indonesia, "Buzzer" Jadi Orang Bayaran
Di Jakarta, "buzzer" adalah pengguna Twitter dengan pengikut berjumlah 2.000 atau lebih yang dibayar untuk mempromosikan produk tertentu lewat rangkaian tweet.

Membayar buzzer untuk kepentingan iklan adalah hal yang lumrah dilakukan saat ini. Biasanya yang dijadikan buzzer adalah para selebritis yang berpengaruh. 

Dalam hal ini, seperti dilaporkan oleh Reuters, Indonesia memiliki keunikan karena di sini para pengiklan tak hanya memanfaatkan jasa para selebritis, tetapi juga turut menyasar "orang biasa" atau anggota masyarakat pada umumnya untuk menjalankan promosi lewat Twitter.

Untuk pengiklan, pesan yang disalurkan lewat buzzer dapat menyasar target audience yang spesifik, yang memiliki ketertarikan sama dengan buzzer yang bersangkutan. Seorang pakar fotografi, misalnya, merupakan buzzer yang cocok untuk perusahaan kamera.

Para buzzer ini mengirimkan rangkaian tweet pendek berisi pesan sponsor agar dibaca oleh para pengikut mereka. Biasanya hal tersebut dilakukan saat jam sibuk antara pukul 4 hingga 8 pagi dan 7 hingga 10 malam, ketika para pengguna Twitter banyak yang sedang terjebak macet dan memantau update tweet di dalam kendaraan.

Jakarta, Ibu Kota Indonesia, memiliki jumlah pengguna Twitter terbesar di antara kota-kota lain di seluruh dunia, menurut lembaga riset pasar media sosial Semiocast. 

Indonesia sendiri merupakan negara dengan penduduk terbanyak ke-4 di dunia, dengan separuh populasi berumur kurang dari 30 tahun sehingga merupakan lokasi yang ideal untuk menjalankan kampanye media sosial.

Bisa dibeli 

Namun, apakah kampanye lewat Twitter tersebut berjalan dengan efektif? Menurut kepala divisi kopi PT Nestle Indonesia Patrick Stillhart, hal yang satu ini sulit diukur selain dengan metode kuantitatif, yaitu menghitung jumlah follower, jumlah "like", dan banyaknya klik yang didapat.
"Pertanyaannya adalah bagaimana kita menghubungkan hal-hal tersebut dengan brand dan penjualan," ujarnya.

Thomas Crampton dari firma periklanan Ogilvy juga menjelaskan bahwa follower bisa membentuk persepsi negatif terhadap buzzer, dengan menganggap bahwa orang yang bersangkutan hanya mengiklankan sesuatu karena dibayar dengan uang.

"Follower akan memandang bahwa orang ini (buzzer) bisa dibeli. Sama halnya seperti berbicara dengan teman. Ketika teman Anda dibayar untuk mengatakan sesuatu pada Anda, maka ada dua kemungkinan: pertama Anda tidak akan menganggap dia sebagai teman, atau yang kedua, Anda tidak akan percaya apa yang dia katakan," papar Crampton.

Bagikan

Jangan lewatkan

Apa itu Buzzer
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.